Beranda > KHUTBAH, Khutbah Jum'at > Renungan Awal Tahun

Renungan Awal Tahun

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Begitu cepat hari-hari berlalu, begitu cepat siang dan malam berganti, dan betapa cepat waktu berlalu menggrogoti umur kita dan mendekatkan pada ajal.

Seolah baru kemarin kita meninggalkan Ramadlan yang masih terkenang laksana mimpi indah. Kemudian datang berikutnya musim haji, berlalu laksana tamu yang mulia, mampir sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Dan itulah hidup, setiap yang datang pasti akan pergi.

Sekarang sempurna waktu setahun meninggalkan kita dan tak kan pernah kembali. Apa yang sudah kita lakukan di dalamnya?! Ketaatan apa saja yang sudah kita kerjakan?! Dan pahala dan kebaikan apa yang sudah kita raih?!

Berapa ayat al-Qur’an yang sudah kita baca?

Berapa shalat yang sudah kita kerjakan?

Berapa rupiah yang sudah kita infakkan?

Berapa hari saja yang kita berpuasa di dalamnya?

Berapa perbuatan baik yang sudah kita kerjakan?

Berapa anak yatim yang sudah kita santuni?

Berapa fakir miskin yang sudah kita bantu?

Berapa orang susah yang sudah kita selesaikan masalahnya?

Berapa mujahid yang sudah kita doakan dan bantu?

Berapa pelaku amar ma’ruf dan nahi munkar yang sudah kita dukung dan sokong langkahnya?

Berapa maksiat yang sudah kita lakukan?

Berapa pandangan khianat dan haram yang sudah kita lihat?

Berapa laki-laki dan perempuan yang kita gunjing?

Berapa aturan Allah yang sudah kita langgar?

Berapa orang lemah yang telah kita dzalimi?

Berapa fakir miskin dan anak yatim yang kita abaikan?

Setahun penuh sudah catatan tertoreh pada lembar kebaikan dan lembar keburukan dengan izin Allah. Siapa di antara kita yang diterima amalnya, maka kita ucapkan selamat berbahagia. Dan siapa yang tertolak maka kita sampaikan ucapan bela sungkawa.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Memang tekadang kita lupa kebaikan dan keburukan yang kita lakukan, namun semua itu telah terjaga dalam satu kitab yang dihimpun dua malaikat.

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

Tidaklah manusia mengucapkan satu kata melainkan ada malaikat yang mengawasinya, menulisnya. Dia tidak akan meninggalkan satu kata dan satu gerakan bibirpun. Sebagaimana firman Allah:

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)

Pada hari kiamat kelak, setiap manusia akan melihat amalnya hadir di depan matanya sehingga ia merasa takut dan panik. Kemudian dengan rahmat-Nya, Allah menyelamatkan ahlul iman (orang beriman) yang taat kepada-Nya dan mengikuti Rasul-Nya, beramal shalih, dan menjauhi maksiat. Sedangkan orang kafir dan ahlul maksiyat, akan binasa disebabkan perbuatan buruk mereka dan amal-amal mereka yang tercela. Allah berfirman:

“Artinya: Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.

(Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.

Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan): “Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa?”

Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini (nya)”.

Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (adzab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong.” (QS. Al-Jatsiyah: 28-34)

Pada hari ini, ahli maksiat berdiri ketakutan dan linglung sambil berkata:

Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Bersegeralah sebelum datang masanya

Saudaraku, sudahkan engkau mempersiapkan bekal untuk hari itu? Apakah engkau telah berbuat yang bisa menyelamatkanmu dari kengerian dan kesulitannya?.

Apakah engkau sudah menghisab dirimu dari amal dan perbuatan yang telah engkau lakukan?.

Apakah engkau sudah bersungguh-sungguh taat kepada Tuhan-mu yang Maha Agung dan Mulia?. Ataukah engkau masih dalam kelalaian dan kesesatanmu?.

Wahai saudaraku, Bersegeralah sebelum engkau menghadap Tuhan-mu lalu berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Lalu dijawab, “Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukminun: 99-100)

Lihatlah hamba-hamba Allah yang shalih, bagaimana amal mereka? Apa yang mereka ucapkan? Bagaimana mereka berbuat? Lalu bandingkan dengan dirimu. Walau begitu mereka tetap takut kalau-kalau amal mereka tertolak dan tidak diterima.

Lalu bagaimana dengan dirimu, apakah engkau yakin amalmu pasti menyelamatkanmu dari siksa neraka? Ataukah engkau termasuk orang yang banyak beramal buruk dan jelek? Ataukah engkau termasuk yang menyampuradukkan amal shalih dengan yang buruk.

Sadarilah kenyataan ini, janganlah engkau berada di atas harapan dusta dan angan-angan batil.

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai pemimpin orang pertama dan terakhir, yang telah Allah tinggikan sebutan namanya, Allah ampuni dosanya yang lalu dan akan datang, mendapat tempat paling mulia dan kedudukan tertinggi pada hari kiamat, senantiasa shalat malam hingga kedua kakinya membesar. Namun ketika dikatakan padanya, “engkau masih lalukan itu, wahai Rasulullah, padahal Tuhanmu telah mengampuni dosamu yang lalu dan akan datang?” maka beliau menjawab, “tidak bolehkan aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?“. Beliau juga senantiasa meminta ampun dan bertaubat kepada Allah setiap harinya lebih dari 100 kali.

Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksiat kepada Allah sehingga beliau beristghfar dan bertaubat kepada-Nya 100 kali dalam sehari?

Sekali-kali tidak. Demi Allah, beliau selalu taat kepada-Nya, namun begitu beliau senantiasa melakukan muhasabah terhadap dirinya, menyempurnakan muraqabah kepada-Nya, tawadlu’ dan merendah diri dengan beristighfar dan taubat kepada-Nya, tanpa pernah berbangga dengan derajat kenabiannya. Beliau bersabda, “seseorang tak akan masuk surga karena amalnya?” mereka menjawab, “tidak juga engkau wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Tidak pula aku, hanya saja, Allah telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku.

Wahai saudaraku, jika amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti ini bagaimana dengan kita? Bagaimana kita bisa berbahagia padahal kita tak tahu tempat kembali kita? Bagaimana kita masih bermain-main sedangkan kita tak tahu tempat terakhir kita? Bagaimana juga kita bisa bergurau sedangkan kita tidak tahu apakah termasuk penghuni surga atau neraka?

Allah berfirman,

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran; 30)

Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-mujadilah: 6)

Allah kelak akan memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya dan akan menghisab seluruh amal-amal mereka. Tidak akan meninggalkan sedikitpun, sekecil apapun itu. Tidak akan mendzalimi seorangpun dari makhluk-Nya, bahkan dia memberi maaf, membiarkan, mengampuni, dan merahmati. Dia menyiksa orang yang dikehendaki-Nya dengan qudrah dan keadilan-Nya. Memenuhi neraka dengan orang kafir dan ahli maksiat. Kemudian Dia menyelamatkan ahli maksiat dari kalangan orang beriman, lalu mengeluarkan mereka dari neraka setelah disiksa di dalamnya sesuai dengan kehendak-Nya. Sementara terhadap orang kafir, mereka kekal di dalamnya. Dia-lah Hakim yang tak pernah curang dan dzalim.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: