Beranda > KAJIAN STUDI ISLAM, Ulumul Qur'an > Pengumpulan dan Penertiban Al Quran

Pengumpulan dan Penertiban Al Quran

Alquran dikumpulkan dalam hati (penghafalan) dan dikumpulkan dalam bentuk mushaf, yakni tertulis dalam susunan yang tertib baik ayat maupun suratnya. Pada sesi ini akan dipaparkan seringkas mungkin proses pengumpulan dan penertiban Alquran.

Pembaca dan penghapal Quran terbaik sudah tentu adalah Nabi Muhammad SAW, seperti dalam firman‐Nya QS Al‐Qiyamah : 17. Selama dua puluh tahun lebih Alquran turun, terkadang hanya satu ayat sehari terkadang bahkan sampai sepuluh ayat sehari. Setiap kali turun Nabi SAW dan para sahabat sangat antusias dalam membacanya, menghafal, dan mengamalkannya. Khusus masalah penghafalan, Nabi SAW secara rutin mendapat kunjungan pada bulan ramadhan untuk membacakan Alquran kepada sang Nabi SAW. menurut para sahabat ketika waktu kunjungan Jibril ini Rasulullah SAW sangat pemurah, lebih pemurah dari hari‐hari yang lain. Di masa Nabi lahirlah para qari dan hafiz, bukan sekedar karena bangsa Arab adalah masyarakat penghapal yang kuat namun lebih karena dimotivasi oleh keagungan, keindahan dan manfaat yang terkandung dalam Kalamallah ini.Walaupun bangsa Arab dulu dikenal sebagai bangsa yang ummi (buta huruf) namun jangan salah mengira kalau seluruh orang Arab buta huruf, beberapa sahabat sudah masyhur sebagai penulis yang baik, apalagi dalam masa kepemimpinan Rasulullah SAW kemampuan menulis bangsa Arab ini mengalami kemajuan yang pesat. Rasul sangat mendorong dan memfasilitasi para sahabat dan ummatnya untuk belajar tulis baca, misalnya saja dengan memberi kebijakan yang berbeda tentang tawanan perang yang memiliki kemampuan baca tulis, biasanya penebusan tawanan hanya dengan cara tukar tawanan dan dengan sejumlah uang atau harta namun Rasul membebaskan para tawanan ini dengan kewajiban mengajar baca tulis kepada beberapa orang ummatnya. Ketika Rasulullah SAW wafat ummatnya tidak lagi mengalami kekurangan orang yang ahli baca tulis.

Alat tulis dan media tulis ketika itu memang masih sulit, sehingga mereka menggunakan apapun seperti lempengan batu, tulang binatang, kulit kayu, dsb. Selain media tulis yang lazim ketika itu seperti kulit binatang atau kertas. Rasulullah SAW menunjuk beberapa sahabat sebagai sekretaris khusus untuk penulisan Quran, Nabi memberi petunjuk untuk menulis ayat yang turun dengan

menyebutkan posisi oenulisannya, misalnya dengan redaksi : “Tulislah ayat ini setelah di surat…,sesudah ayat,…dan sebelum ayat….”

Para ulama siroh seorang sahabat biasanya membagi proses pengumpulan dan penertiban Alquran ini kedalam tiga periode, yaitu :

1. Penghafalan dan pembukuan yang pertama di masa Nabi SAW.

2. Pengumpulan Quran pada masa Abu Bakar ra.

3. Pengumpulan Quran pada masa Ustman ra.

Pada materi sebelumnya sudah dituturkan bahwa Quran telah dihapal oleh banyak sekali sahabat dan ditulis dalam segala media yang tersedia ketika itu mulai dari kulit, tulang, batu sampai kertas.

Pada masa khalifah Abu Bakar ini terjadi peristiwa pemberontakan besar yang dilakukan oleh beberapa daerah yang murtad terhadap Islam, suatu ketika terjadi peperangan di daerah yamamah dan melibatkan banyak para sahabat yang hapal Alquran. Ternyata dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari kalangan sahabat gugur, hal tersebut mencemaskan sahabat Umar bin Khatab ra. Ia khawatir akan musnahnya Alquran dengan cara kehilangan para penghapalnya. Oleh karena keprihatinan itulah Umar ra mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Alquran dalam bentuk sebuah buku. Mulanya sang khalifah sempat bimbang karena hal ini tak pernah diperintahkan Rasulullah SAW secara langsung, namun akhirnya beliau menyetujuinya.

Khalifah Abu Bakar memerintahkan seorang sahabat yang memiliki kedudukan yang mulia dalam hal Qiraat, hafalan, penulisan dan pemahamannya t erhadap Quran untuk memimpin proyek penting ini.

Langkah ini disetujui oleh semua sahabat Nabi yang hidup pada masa itu.

Kemudian tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Sabit mulai bekerja, mereka kumpulkan tulisantulisan ayat‐ayat Quran yang terpencar‐pencar dari tulang‐tulang, pelepah kurma, kepingankepingan batu dan mereka juga ambil dari para penghafal‐penghafal Quran. Kehati‐hatian Zaid sangat nyata terbukti dari bahwa Ia tidak mau menerima dari seseorang mengenai Qur’an sebelum

disaksikan oleh dua orang saksi. Ada juga ulama siroh yang berpendapat bahwa Zaid hanya menerima Quran apabila orang itu memiliki catatan dan juga telah menghapal apa yang ia catat tersebut.

Zaid bin Sabit sebenarnya adalah juga seorang penghapal tapi hal ini tidak mengurangi kehati‐hatian dan kecermatannya ia melakukan pengumpulan Quran dari semua orang yang memiliki catatan dan menghafalnya.

Pada masa ini Quran telah dikumpulkan ke dalam bentuk buku dengan tertib susunan yang diperintahkan Rasul SAW dan mencakup ketujuh huruf yang mana Quran diturunkan* pada masa Abu Bakar ra inilah lahir istilah Mushaf. Sahabat Ali ra berkata ; “Orang yang paling besar pahalannya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Semoga Allah melimpahkan rahmat‐Nya kepada Abu Bakar. Dialah orang pertama yang mengumpulkan Kitab Allah.”

Seperti yang kita ketahui minggu lalu, Alquran dikumpulkan di masa khalifah Abu Bakar ra dalam ketujuh hurufnya * dan ternyata dimasa khalifah Usman ra hal itu menimbulkan masalah. ketikawilayah Islam semakin meluas dan jumlah pemeluk agama ini juga kian pesat, mulai banyak yang tidak memahami hakikat tujuh huruf ini dengan baik sehingga ketika guru‐guru qari mereka mengajarkan cara baca quran dengan satu dari tujuh huruf mereka menyangka cara baca itulah yang benar lalu ketika mereka menjumpai orang lain membaca Quran bukan dengan cara baca yang mereka pakai, timbul pertikaian oleh sebab cara baca yang berbeda itu.

Hal tersebut menimbulkan kecemasan dan usul yang dikemukakan secara resmi oleh sahabat Huzdaifah kepada khalifah Ustman dan para sahabat lainnya. akhirnya mereka bersepakat untuk menyalin mushaf yang ada pada Abu Bakar dengan menetapkan satu saja cara baca (qiraat). Ustman kemudian mengutus utusan kepada hafsah agar meminjamkan mushaf Abu Bakar untuk menyalin dan memperbanyaknya namun dengan perintah khusus yaitu agar menuliskan ke dalam satu cara baca saja yaitu dalam dialeg Quraisy dan membuang keenam huruf (cara baca) lainnya. Khalifah Ustman memerintahkan Zaid bin sabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin As dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk melakukannya.

Khalifah ustman memperbanyak mushaf yang disebut mushaf Ustmani tesebut dan menyebarkan ke daerah‐daerah dan  pemerintahkan agar semua mushaf lainnya di bakar. sehingga sejak masa ini semua mushaf dan semua Qari membaca Quran dengan bacaan satu huruf yakni dialeg atau bahasa arab suku Quraisy.

Motivasi Abu Bakar ketika hendak mengumpulkan Quran adalah kekhawatiran akan hilangnya Quran karena banyak penghapal Quran yang gugur dalam peperangan. sedangkan motivasi Ustman adalah keinginan menyatukan umat kedalam satu cara baca oleh karena semakin banyak perbedaan cara baca dan pertikaian karenanya. Kalau Abu Bakar memindahkan tulisan Alquran yang bertebaran diberbagai media ke dalam satu buku lengkap dengan ketujuh hurufnya, maka Ustman menyalin kedalam satu mushaf dengan memisahkan keenam huruf lainnya.

* akan dijelaskan pada bab tersendiri.

Sebelum kita lanjut lebih jauh dalam sejarah kodifikasi kitab suci Alquran, sejenak kita berhenti untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan Tujuh huruf. Apakah yang dimaksud dengan “Alquran turun dengan tujuh huruf.?”

Nas‐nas sunah cukup banyak mengemukakan hadits mengenai turunnya Quran dengan tujuh huruf, kami sajikan tiga diantarannya :

Dari ibn Abbas, ia berkata ; “Rasulullah berkata; ‘Jibril membacakan (Quran) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf ’ ”

Dari Ubai bin Ka’b; “Ketika Nabi berada di dekat parit bani gafar, ia didatangi Jibril seraya mengatakan ; ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan satu huruf’ Ia menjawab; ‘Aku memohonkepada Allah ampunan dan maghfirah‐Nya, karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu.’ Kemudian Jibril datang lagi untuk yang kedua kalinya dan berkata:

‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan dua huruf.’ Nabi menjawab: ‘Aku memohon ampunan dan magfirah‐Nya umatku tidak kuat melaksanakannya.’ Jibril datang lagi untuk yang ketiga kalinnya, lalu mengatakan: ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan tiga huruf. ’ Nabi menjawab ‘Aku memohon ampunan

dan magfirah‐Nya sebab umatku tidak dapat melaksanakannya.’ ’ Kemudian Jibril datang lagi untuk yang keempat kalinya seraya berkata: ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf, dengan huruf mana saja mereka membaca , mereka tetap benar.’”

Dari Umar bin Khattab, ia berkata ; “”Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surah al‐Furqan dimasa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya. Tiba‐tiba ia membacannya dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku berusaha sabar menunggunya sampai salam. Begitu salam aku tarik selendangnya dan bertanya : ‘Siapakah yang membacakan (mengajarkan membaca) surah itu kepadamu?‘ ia menjawab ; ‘Rasulullah yang membacakannya kepadaku’ lalu aku katakan kepadanya: ‘Dusta kau! Demi Allah, Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surah yang aku dengar tadi engkau membacanya (tapi tidak seperti bacaanmu).’ Kemudian aku bawa dia menghadap Rasulullah, dan aku ceritakan kepadanya bahwa ‘Aku telah mendengar orang ini membaca surah al‐Furqan denganhuruf‐huruf yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surah al‐Furqan kepadaku.’ Maka Rasulullah berkata: ‘Lepaskan dia wahai Umar.

Bacalah surah tadi, wahai Hisyam!’ Hisyampun kemudia membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. Maka kata Rasulullah : ‘Begitulah surah itu diturunkan.’ Ia berkata lagi: ‘Bacalah, wahai Umar!’ Lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan Rasululah kepadaku.

Maka kata Rasullulah: begitulah surat itu diturunkan.’ Dan katanya lagi: Sesungguhnya Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu diantarannya. ”

Ada banyak pendapat tentang arti tujuh huruf ini. pendapat yang masyhur dan terkuat adalah bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa‐bahasa Arab dalam mengungkapkan satu makna yang sama. misalnya kata ‘aqbil’, ‘ta’ala’, ‘halumma’, ”ajal’, dan ‘asra” lafaz‐lafaz yang berbeda ini digunakan untk menunjukkan satu makna yaitu ; perintah untuk menghadap.

Alquran bukannya turun sebanyak tujuh kali dengan tujuh bahasa atau dialeg‐dialeg tapi jika bahasa mereka berbeda‐beda dalam mengungkapkan satu makna, maka Quran pun diturunkan dengan sejumlah lafaz sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. namun jika tidak terdapat perbedaan, maka Quran hanya mendatangkan satu lafaz saja.

Ada pendapat bahwa yang dimaksud dengan kata tujuh dalam istilah “tujuh huruf” bukannya tujuh seperti bilangan. tapi ini adalah kebiasaan orang arab apabila menyebut jumlah yang sangat banyak mereka menyebut kata tujuh. jadi menurut pendapat ini alquran turun bukan secara persis tujuh bahasa atau dialeg atau ragam pengucapan dalam menyebut satu arti, tapi lebih dari tujuh. dan pendapat ini bisa benar mengingat bahwa dialeg atau variasi dari bahasa Arab memang lebih dari tujuh.

  1. 4 Maret 2012 pukul 12:05

    sya senang membca ini..wawsan & ilmu sya tentang ilmu agama jdi bertmbah dengn membca ini..kLo bisa sich..d perbnyak Lgi

  2. 11 April 2013 pukul 21:28

    It is not my first time to go to see this web site, i am browsing this site
    dailly and get nice information from here daily.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: