Beranda > KAJIAN STUDI ISLAM, Ulumul Qur'an > Menyentuh Mushaf Al‐Qur’an.

Menyentuh Mushaf Al‐Qur’an.

Para ulama sepakat bahwa kebolehan me‐nyentuh mushaf Al‐Qur’an hanya ditujukan kepada orangorang/hamba‐hamba yang disucikan saja, sedangkan hamba‐hamba yang tidak disucikan tidak diperbolehkan. Hal ini didasarkan atas keterangan Al‐Qur’an surah al‐Waqi’ah ayat 77‐80 yang arti‐nya: “Sesungguhnya Al‐Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali orang‐orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam.”Kata al‐mutahharun dalam ayat 79 di atas mengandung beberapa pengertian. Dalam hal ini, tidak ada penegasan dari Al‐Qur’an tentang apa yang dimaksud dengan kata itu. Dari sini timbul perbedaan penafsiran dan pemahaman para ulama, baik dari kalangan ulama tafsir maupun ulama fikih.

Syekh Abu Ah’ al‐Fadl bin Hasan at‐Tabarsi, seorang ulama tafsir abad ke‐6 H, dalam kitabnya Majma’ al‐Bayan fi Tafsir Al‐Qur’an menafsirkan bahwa kata al‐mutahharun itu mengandung tiga makna, yaitu para malaikat, orang‐orang/hamba‐hamba yang suci dari syirik, dan orang‐orang yang suci dari Hadas dan junub. Muhammad Ali as‐Sabuni, guru besar tafsir di Universitas King Abdul Aziz (Mekah), menyatakan dalam kitabnya Shafwat at‐Tafasir bahwa kata al‐mutahharun berarti para malaikat yang dinyatakan oleh Allah SWT sebagai hamba‐hamba yang suci dari syirik, dosa, dan hadas atau orang‐orang/hamba‐hamba yang berwudu.

Hadis Rasulullah SAW juga tidak menegaskan dan tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata al‐mutahharun itu. Dalam hadis hanya ditemukan kata tahirun, seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh ad‐Darimi dan Imam Malik dari Amr bin Hazm; “Nabi SAW menulis, tidak menyentuh Al‐Qur’an kecuali orang yang suci.”

Penggunaan kata tahirun yang bersifat umum dalam hadis juga mengundang perbedaan pendapat dikalangan ulama fikih. Jumhur (mayoritas) ulama fikih, termasuk Imam Malik, Imam Hanafi, dan Imam Syafi’i, berpendapat bahwa yang di‐maksud dengan tahirun dalam hadis itu adalah orang yang berwudu. Karena itu, mereka berpendirian bahwa yang diperbolehkan menyentuh mus‐haf Al‐Qur’an hanyalah orang‐orang yang berwudu. Menurut mereka, wudu merupakan syarat untuk memegang mushaf. Adapun ulama yang lain, seperti ulama Mazhab Zahiri, menolak pendirian ulama di atas dan mengatakan bahwa wudu tidak merupakan syarat untuk menyentuh mushaf Al‐Qur’an; orang yang tidak berwudu boleh menyentuh mushaf.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: