Beranda > KAJIAN STUDI ISLAM, Ulumul Qur'an > Makki dan Madani

Makki dan Madani

Materi kali ini membahas secara ringkas tentang ”Makki dan Madani”, istilah teknis ini berarti :

“ayat‐ayat yang turun di Makkah dan sekitarnya (Makki). Dan ayat‐ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya (Madani).”

Manfaat mengetahui Makki dan Madani sangat banyak, diantara yang terpenting adalah :

Sebagai alat bantu dalam menafsirkan Qur’an, pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar.

Dua jenis ayat dan atau surat Maki dan Madani ini memiliki karakter penyampaian yang berbeda sesuai dengan kondisi dan tempat turunnya. Kita dapat meresapi gaya bahasa Qur’an tersebut dan memanfaatkannya di medan dakwah, ini merupakan manfaat yang khusus dalam ilmu retorika.

Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat‐ayat Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada periode Mekah maupun periode Medinah, sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Qur’an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulullah. Peri hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan Qur’an; dan Qur’an pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan.

Para Ulama mengetahui dan menentukan Makki dan Madani dengan dua cara, cara pertama didasari pada riwayat sahih para sahabat yang hidup pada saat itu dan menyaksikan turunnya wahyu; atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat bagaimana, di mana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu. Sebagian besar penentuan Makki dan Madani itu didasarkan pada cara ini. Yang kedua para Ulama menentukan dengan Kias Ijtihadi mereka (keputusan yang dibuat dengan pertimbangan yang matang).

Berkenaan Makki dan Madani ini para ulama membicarakan tentang banyak hal, yang terpenting adalah sebagai berikut ; surat yang diturunkan di Makkah dan surat‐surat yang diturunkan di Madinah, surat dan ayat‐ayat yang diperselisihkan, ayat‐ayat Makkiah dalam surat‐surat Madaniah dan ayat‐ayat Madani dalam surat‐surat Makkiah.

Pendapat yang paling populer dan tentang bilangan surat‐surat Makkiah dan Madaniyah ialah bahwa Madaniah ada dua puluh surah:

1) al‐Baqarah; 2) Ali ‘Imran; 3) an‐Nisa; 4) al‐Ma’idah; 5) al‐Anfal; 6)  at‐Taubah; 7) an‐Nur; 8) al‐Ahzab; 9) Muhammad; 10) al‐Fath; 11) al‐Hujurat; 12) al‐Hadid; 13) al‐Mujadalah; 14) al‐Hasyr; 15) al‐Mumtahanah; 16) al‐Jumu’ah; 17) al‐Munafiqun; 18) at‐Talaq ; 19) at‐Tahrim; da 20) an‐Nasr.

Yang diperselisihkan ada dua belas surah; 1) al‐Fatihah; 2) ar‐Ra’d; 3) ar‐Rahman; 4) as‐Saff; 5) at‐Tagabun; 6) at‐Tatfif; 7) al‐Qadar; 8) al‐Bayyinah; 9) az‐Zalzalah; 10) al‐Ikhlas; 11) al‐Falaq; dan 12)an‐Nas.

Selain yang tersebut diatas adalah Makkiah.

Dengan menamakan sebuah surah itu Makkiah atau Madaniah tidak berarti bahwa surah tersebut seluruhnya Makkiah atau Madaniah, sebab di dalam surah Makkiah terkadang terdapat ayat‐ayat Madaniah, dan di dalam surah Madaniah pun terkadang terdapat ayat‐ayat Makkiah. Dengan demikian, penamaan surah itu Makkiah atau Madaniah adalah menurut sebagian besar ayat‐ayat yang terkandung di dalamnya. Karena itu, dalam penamaan surah sering disebutkan bahwa surah itu Mak‐kiah kecuali ayat “anu” adalah Madaniah; dan surah ini Madaniah kecuali ayat “anu” adalah Makkiah. misalnya surah al‐Anfal itu Madaniah, tetapi banyak ulama mengecualikan ayat 30 yang dianggap sebagai ayat Makiah.

Ciriciri Khas Makki dan Madani.

Para ulama telah meneliti surah‐surah Makki dan Madani; dan menerangkan ciri‐ciri khasnya sbb :

Ketentuan Makki dan Ciri Khas Temanya

• Setiap surah yang di dalamnya mengandung “sajdah” maka surah itu Makki.

• Setiap surah yang mengandung lafal kalla, berarti Makki.Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Qur’an. Dan disebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surah.

• Setiap surah yang mengandung ya ayyuhan nas dan tidak mengandung ya ayyuhal lazina amanu, berarti Makki, kecuali Surah al‐Hajj yang pada akhir surah terdapat ya ayyuhal lazina aamanur‐ka’u wasjudu. Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat Makki.

• Setiap surah yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu adalah Makki, kecuali surah Baqarah.

• Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan Iblis adalah Makki, kecuali surah Baqarah.

• Setiap surah yang dibuka dengan huruf‐huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra,

Ha Mim dan lain‐lainnya, adalah Makki, kecuali surah Baqarah dan Ali ‘Imran. Sedang surah Ra’d masih diperselisihkan.

Ini adalah dari segi ketentuan, sedang dari segi ciri tema dan gaya bahasa dapatlah diringkas sebagai berikut :

Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan had pembalasan, had kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmat‐nya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti‐bukti rasional dan ayat‐ayat kauniah.

Peletakan dasar‐dasar umum bagi perundang‐undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat; dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan hidup‐hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.

Menyebutkan kisah para nabi dan umat‐umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka; dan sebagai hiburan buat Rasulullah sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka dan yakin akan menang.

Suku katanya pendek‐pendek disertai kata‐kata yang mengesankan sekali, pernyataannya singkat, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal‐Iafal sumpah; seperti surah‐surah yang pendek‐pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.

Ketentuan Madani dan Ciri Khas Temanya

• Setiap surah yang berisi kewajiban atau had (sanksi) adalah Madani.

• Setiap surah yang di dalamnya disebutkan orang‐orang munafik adalah Madani, kecuali surah al‐’Ankabut adalah Makki.

• Setiap surah yang di dalamnya terdapat dialog dengan Ahli Kitab adalah Madani.

Ini dari segi ketentuan, sedang dari segi ciri khas tema dan gaya bahasa dapat diringkaskan sebagai berikut:

Menjelaskan tentang bab ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang‐undangan.

Seruan terhadap Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab‐kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki di antara sesama mereka.

Menyingkap perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.

Suku kata dan ayatnya panjang‐panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.

  1. Belum ada komentar.
  1. 28 Desember 2012 pukul 01:35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: