Beranda > Fiqih, KAJIAN STUDI ISLAM, Shalat > Kewajiban Melaksanakan Shalat Berjama’ah (Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz)

Kewajiban Melaksanakan Shalat Berjama’ah (Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz)

Banyak orang yang meremehkan shalat berjama’ah. Yang menjadi alasan mereka adalah sikap ketidak pedulian sebagian ulama terhadap masalah ini. Oleh karenanya, dalam tulisan ini saya berkewajiban untuk menjelaskannya karena sebenarnya masalah ini teramat penting.

Setiap muslim tidak dibenarkan meremehkan masalah yang dianggap penting oleh Allah U (dalam Kitab suci-Nya) dan Rasul-Nya (dalam sunnahnya).Allah U telah banyak menyebut kata “Shalat” dalam Al Qur’anul Karim. Ini sebagai pertanda begitu pentingnya perkara ini. Allah U telah memerintahkan kita untuk memelihara dan melaksanakan shalat dengan berjama’ah.

Allah U juga menegaskan bahwa meremehkan dan malas mengerjakan shalat berjama’ah termasuk sifat orang munafik. Dan hal ini terdapat dalam salah satu firman-Nya:

“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’”. (Al Baqarah: 238).

Bagaimana mungkin seorang muslim dapat dikatakan sebagai orang yang memelihara dan mengagungkan shalat, bila ia tidak melakukan (bahkan meremehkan) shalat berjama’ah bersama rekan-rekannya.

Allah U berfirman:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”. (Al Baqarah: 43).

Ayat yang mulia ini merupakan nash tentang kewajiban shalat berjama’ah. Pada awal ayat tersebut Allah U sudah memerintahkan kita untuk mendirikan shalat, ini berarti kita diperintahkan Allah U untuk memelihara shalat berjama’ah, bukan sekedar mengerjakan shalat saja.

Dalam surat An Nisaa’ ayat 102, Allah U berfirman:

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata …”. (An Nisaa’: 102).

Pada ayat di atas Allah U mewajibkan kaum muslimin untuk mengerjakan shalat berjama’ah dalam keadaan perang. Apatah lagi dalam keadaan damai?!

Jika seorang muslim diperbolehkan meninggalkan shalat berjama’ah (oleh Allah U), tentu kaum muslimin yang lain yang tengah berbaris menghadapi serangan musuh dan yang paling terancam dibolehkan meninggalkan shalat berjama’ah.

Tetapi di dalam ayat di atas, perintah Allah U tidaklah demikian. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa shalat berjama’ah merupakan kewajiban utama. Oleh karenanya tidak dibenarkan seorang muslim meninggalkan kewajiban tersebut.

Abu Hurairah t meriwayatkan bahwa Nabi r pernah bersabda:

(( لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاةِ, فَتُقَامُ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حَزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُوْنَ الصَّلاَةَ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ ))

“Aku berniat memerintahkan kaum muslimin untuk mendirikan shalat. Maka aku perintahkan seseorang untuk menjadi imam dan shalat bersama manusia. Kemudian aku berangkat dengan sekelompok kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang enggan shalat berjama’ah, dan niscaya aku bakar rumah-rumah mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Abdullah bin Mas’ud t berkata: “Engkau telah melihat kami, tidaklah seseorang yang meninggalkan shalat berjama’ah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui kenifakan-nya, atau seseorang yang sakit, bahkan seorang yang sakitpun berjalan (dengan dipapah) di antara dua orang untuk mendatangi shalat (berjama’ah di masjid).”

Abdullah bin Mas’ud t lalu menegaskan: “Rasulullah r mengajarkan kepada kami jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat berjama’ah di masjid).” (HR. muslim).

Abdullah bin Mas’ud t berkata: “Barang siapa ingin bertemu Allah U di hari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia memelihara semua shalat yang diserukan-Nya. Allah U telah menetapkan kepada Nabi kalian jalan-jalan hidayah dan shalat itu termasuk jalan hidayah. Jika kalian shalat di rumah berarti kalian telah meninggalkan jalan Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan jalan Nabi kalian, niscaya kalian akan tersesat. Seorang lelaki yang bersuci dengan baik, kemudian menuju ke masjid, maka Allah U menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus satu kejahatannya. Engkau telah melihat dikalangan kami, tidak pernah ada yang meninggalkan shalat (berjama’ah) kecuali orang munafik yang sudah nyata dan jelas kenifakan-nya. Perlu diketahui pernah ada seorang lelaki hadir dengan dituntun di antara dua orang untuk didirikan di shaf. ”

Dari Abu Hurairah t dikisahkan bahwa pernah ada seorang lelaki buta bertanya kepada Rasulullah r, “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun yang menggandengku ke masjid. Apakah aku mendapatkan keringanan untuk shalat di rumah saja?” Rasulullah r bertanya kepadanya: “Apakah kamu mendengarkan adzan (seruan) untuk shalat ?”, “Ya” jawab lelaki buta itu. Rasulullah r lalu berkata dengan tegas, “jika demikian datangilah masjid untuk shalat berjama’ah !.”

Hadits yang menunjukkan wajibnya shalat berjama’ah dan kewajiban melaksanakannya di rumah Allah U sangat banyak. Oleh karena itu setiap muslim wajib memperhatikan dan bersegera melaksanakannya. Juga wajib untuk memberitahukan hal ini kepada anak-anaknya, keluarga, tetangga, dan seluruh teman-teman seakidah, agar mereka mengerjakan perintah Allah U dan perintah Rasul-Nya. Agar mereka takut terhadap larangan Allah U dan Rasul-Nya, dan agar mereka menjauhkan diri dari sifat-sifat orang munafik yang tercela, di antaranya sifat malas mengerjakan shalat. Allah U telah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud untuk riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir). Tidak masuk dalam galongan ini (orang-orang yang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (An Nisaa’: 142-143).

Meninggalkan shalat berjama’ah merupakan salah satu penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali. Dan perlu kita pahami bahwa meninggalkan shalat adalah kekafiran dan keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan sabda Nabi r:

(( بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ ))

“Batas pemisah antara seseorang dengan kekafiran dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat.” (H.R; Muslim).

Rasulullah saw juga pernah bersabda:

(( َالْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ ))

“Janji yang membatasi antara kita dan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya maka ia telah kafir.”

Setiap muslim wajib memelihara shalat pada waktunya, mengerjakan shalat sesuai dengan yang disyari’atkan Allah U, dan mengerjakannya secara berjama’ah di rumah-rumah Allah U. Seorang muslim wajib ta’at kepada Allah U dan Rasul-Nya, serta takut akan murka  Allah U dan siksa-Nya.

Apabila kebenaran telah tampak dan dalil-dalilnyapun telah jelas, maka siapapun tidak dibenarkan menyeleweng serta mengingkarinya dengan alasan menurut perkataan si fulan ini atau si fulan itu, karena Allah U telah berfirman:

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59).

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi kehendaknya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (An Nuur: 63).

Tidak diragukan lagi, bahwasanya shalat berjama’ah mempunyai beberapa hikmah serta maslahat yang banyak. Hikmah yang paling tampak adalah akan timbul di antara sesama muslim sikap saling mengenal dan saling membantu untuk kebaikan, ketakwaan, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran.

Hikmah lainnya adalah untuk memberi dorongan kepada orang yang meninggalkannya, dan memberi pengajaran kepada orang yang tidak tahu. Juga untuk menumbuhkan rasa tidak suka/benci terhadap kemunafikan, untuk memperlihatkan syi’ar-syi’ar Allah U di tengah-tengah hamba-hamba-Nya, dan sebagai sarana dakwah lewat ucapan serta perbuatan.

Semoga Allah U melimpahkan taufiq-Nya kepada saya dan anda sekalian untuk mencapai ridha-Nya serta perbaikan dalam masalah dunia dan akhirat. Kami juga memohon perlindungan kepada Allah U dari kejahatan-kejahatan diri serta keburukan amalan-amalan kami dan dari sifat-sifat yang menyerupai orang-orang kafir dan munafik. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

  1. munawir
    3 Oktober 2010 pukul 05:10

    assalamu’alaikum
    ya akhii bagaimana jika kita ketiduran sedangkan waktu untuk solat itu sudah lewat,apakah itu termasuk melalaikan solat.bagaimana cara melanjutkan sholat waktu kita jadi masbuk waktu imam sudah tahyat akhir.terimakasih
    wassalam mua’alaikum wr rb

    • 4 Oktober 2010 pukul 03:21

      1- kalau ketiduran dan bangun saat waktunya sudah lewat antm langsung sholat pas bangun (sholat qsdha namanya.
      2- jika sengaja bergadang tanpa ada keperluan dia termasuk melalaikan walllahu a’lam jika tidak maka Allah maha tahu apa yang ada dalam hati manusia.
      3- lanjutkan shalat sejumlah rakaat yang diharuskan karena antum dianggap tidak mendapatkan rakaat sama sekali antum hanya dapat fadilah shalat jamaahnya saja.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: