Beranda > Aqidah & Manhaj > Iman Akan Keberadaan Allah Swt

Iman Akan Keberadaan Allah Swt

Iman kepada Allah mencakup empat aspek:

 

1.   Mengimani Wujud Allah Swt

2.   Mengiman Rububiyah Allah swt

3.   Mengimani Asma dan Sifat Allah swt

4.   Mengimani Uluhiyyah Allah swt

 

1.      Mengimani Wujud Allah Swt

 

Wujud Allah dapat dibuktikan dengan empat hal:

 

A.     Fitrah,

B.     Akal,

C.     Syara’,

D.     Indera.

 

A.     Bukti fitrah tentang wujud Allah.

 

Setiap makhluk secara fitrah (naluriah) tercipta dalam keadaan beriman kepada Allah swt. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa fenomena dan yang paling kentara sekali diantara adalah saat mengahdapi kondisi terjepit manusia seingkar manapun dia akan tengadahkan hatinya untuk memohon kepada dzat yang maha kuat, maha gagah, Dia sang khaliq. Perhatikan ayat berikut ini:

 

“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Yunus: 22)

 

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS. Al Ankabut: 65)

 

Dan perhatikan ayat seruapa pada: QS. Luqman: 32.

 

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar”.

 

Rasulullah saw bersabda:

 

“Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang meyahudikan, mengkristenkan, atau yang memajusikannya.” (HR. Al Bukharl)

 

Orang sekeufur firaunpun akhirnya dia mengakui akan keberadaan Allah, firaun yang pernah mengatakan:

 

“Dan Berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, Aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain Aku……”.

 

 

“ Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, Karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu Telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

 

 

 

Hal ini dikarenakan setiap manusia telah ditarik perjanjian untuk mengimani bahwa Allah swt adalah Rab mereka sebelum mereka dilahirkan ke dunia fana ini, Allah swt berfirman:

 

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al ‘Araf: 172)

 

B. Bukti akal tentang wujud Allah.

 

Proses terjadinya semua makhluk merupakan bukti secara akal tentang keberadaan Allah swt. Bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang pasti ada yang menciptakan. Kenapa?

Karena makhluq itu sebelum diciptakan adalah tidak ada dan tidak mungkin sesuatu yang asalnya tidak ada menciptakan dirinya sendiri.

Dan tidak mungkin makhluk tercipta dengan sendirinya, karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta.

 

Coba kita perhatikan keberadaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, perputaran tatasurya yang begitu teratur secara sistematis, mungkinkan semua itu terjadi tanpa ada yang menciptakan dan mengaturnya?.

 

Fenomena ini menolak bahwa hal tersbut terjadi secara kebetulan, karena sesuatu yang terjadi dengan kebetulan tidak mungkin teratur.

 

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya. Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, Kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, dia menjadi purnama, Kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.

 

 

Allah SWT menyebutkan dalil aqli (akal) dan dalil qath’i dalam surat Ath Thuur:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath Thuur: 35)

 

 

Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah SWT.

 

Ketika Jubair bin Muth’im mendengar Rasulullah saw membaca surat Ath Thuur dan sampai kepada ayat-ayat ini:

 

 

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukan mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Atau­kah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu atau merekakah yang berkuasa?” (QS. Ath Thuur 35-37), ia yang tatkala itu masih musyrik berkata, “Hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku.” (HR. Al Bukhari)

 

C. Bukti syara’ tentang wujud Allah SWT,

 

Bahwa seluruh kitab langit berbicara tentang keberadaan sang pencipta.

Seluruh hukum yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitab-kitab itu datang dari Robb yang Maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluknya, karena manusia tidak akan mampu untuk melakukan hal itu.

Berita-berita mengenai alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang didatangkan kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dari Robb yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang diberitakan itu.

Keberadaan Rasul dan para nabi sejak Nabi Adam As s/d Nabi Muhammad saw, mereka semua mengajak pada hal yang sama yaitu untuk mentauhidkan Allah swt, ini menandakan bahwa dzat yang mengutus mereka adalah Dzat yang sama dan hidup dari zaman Nabi Adam bakan sebelumnya hingga zaman nabi Muhammad saw bahkan sesudahnya. Adakah yang sanggup tetap hidup dalam kurun waktu yang sedemikian panjang kecuali sang Khaliq yang Maha Hidup.

 

“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (QS. Al Anbiya: 25)

 

 

4. Bukti inderawi tentang wujud Allah SWT.

 

Hal ini dapat dilihat dari dua hal:

 

a. Fenomena pengabulan do’a.

Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah SWT, Allah berfirman:

 

 

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamat-kan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (Al Anbiyaa 76)

 

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Robbmu. lalu diperkenankan-Nya bagimu…” (Al Anfaal 9)

 

Anas bin Malik Ra berkata, “Pernah ada seorang badui datang pada hari Jum’at. Pada waktu itu Nabi saw tengah berkhotbah. Lelaki itu berkata, “Hai Rasul Allah, harta benda kami telah habis. seluruh warga sudah kelaparan. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah swt untuk mengatasi kesulitan kami.” Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Tiba-tiba awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rasulul­lah belum turun dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya. Pada Jum’at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata, “Hai Rasul Allah, bangunan kami hancur dan harta bendapun tenggelam, doakanlah akan kami ini (agar selamat) kepada Allah.” Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdoa: “Ya Robbku, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami.” Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat kecuali menjadi terang (tanpa hujan).” (HR. Al Bukhari)

 

b. Adanya Mukjizat bagi para Nabi.

Hal ini dapat disaksikan atau didengar banyak orang yang merupakan bukti yang jelas tentang wujud Yang Mengutus para nabi tersebut, yaitu Allah SWT, karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai penguat dan penolong bagi para rasul. Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa As untuk melempar tongkat lalu berubah menjadi ular besar.

 

“Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: “Demi kekuasaan Fir’aun, Sesungguhnya kami benar-benar akan menang, Kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya Maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah), Mereka berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta Alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun”. (QS. Asy Syu’ara: 44 – 48)

 

 

 

Contoh kedua adalah mukjizat Nabi Isa As ketika menghidupkan orang-orang yang sudah mati, lalu mengeluarkannya dari kubur dengan ijin Allah. Allah SWT berfirman, yang artinya:

 

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang Berkata kepada mereka): “Sesungguhnya Aku Telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; Kemudian Aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan Aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman”. (QS. Ali Imran: 49)

 

“… dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi hidup) dengan ijin-Ku…” (QS. Al Maidah 110)

 

Contoh ketiga adalah mukjizat Nabi Muhammad 3f| ketika kaum Quraisy meminta tanda atau mukjizat. Beliau mengisyarat­kan pada bulan, lalu terbelahlah bulan itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikannya. Allah Swt berfirman tentang hal ini, yang artinya:

 

“Telah dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. (QS. AL Qamar. 1-2)

Kategori:Aqidah & Manhaj
  1. 24 Februari 2010 pukul 07:11

    mohon ijin copy, untuk disebarkan, agar semua tau,,,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: