Beranda > KHUTBAH, Khutbah Iedul Adha > Khutbah Iedul Adha 1429 H

Khutbah Iedul Adha 1429 H

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar Laa Ilaaha Illallah huwallahu akbar allahu akbar Walillahil hamdu.

Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang sentiasa kita puji, kita mohonkan pertolongan dan ampunan, Dzat tempat kita berlindung dari kejahatan diri-diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa dibimbing Allah, maka tiada seorangpun yang kuasa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan Allah, tak ada seorangpun yang mampu membimbingnyaYaa…Allah Yaa Rahman limpahkanlah shalawat dan salam teruntuk teladan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang konsisten menapak tilasi tatacara dan pola hidup beliau hingga hari kiamat kelak.

Maha suci Engkau yaa Allah yang telah mengumpulkan kami di tempat dan hari yang suci ini, hari yang penuh limpahan rahmat dan barakah, hari dimana takbir, tasbih, tahmid dan tahlil bergema serentak memenuhi seantaro dunia, sepenuh rasa gembira dan haru yang meliputi hati kami.

Kami gembira karena sampai hari ini, sampai detik ini kami masih dapat menghirup udara segar, menikmati panorama dunia ciptaan-Mu nan elok, menikmati hembusan udara suci bulan Dzul Hijjah, padahal tak sedikit mereka yang sedianya bersama kami, namun kini telah pergi meninggalkan kami selamanya tuk memenuhi panggilan takdir-Mu, adik kami, kakak kami, bapak kami, ibu kami ataupun kakek dan nenek kami, semoga engkau berkenaan merahmati mereka semua yaa Allah… Yaa Arhamar Raahimiin.

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Kami haru dan sedih karena saat ini kami terhalang dari kebaikan besar yang saat ini dinikmati oleh saudara-saudara kami seiman, beribadah di tanah suci melakukan haji yang merupakan panggilan dan seruan Ilahi yang dikumandangkan langsung oleh sang Penguasa Jagad Raya:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”(QS. Al Hajj: 27)

Haji adalah Ibadah yang bila dijalankan dengan benar sesuai tuntunan baginda Rasulullah saw akan menjadi pelita dan jembatan yang mengantarkan pelakunya menuju kebahagian abadi disisi Yang Maha Mulia. Di riwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa rasulullah saw bersabda:

“Tidak ada balasan yang layak bagi haji mabrur kecuali surga, satu umrah ke umrah lain adalah penghapus dosa antara keduanya” (Musnad Ahmad)

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Ya Allah Yaaa rahman terimalah ibadah saudara-saudara kami yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji, jadikanlah mereka haji yang mabrur. Dan berilah kami yang tidak dapat melaksanakannya pada saat ini, kesempatan untuk menunaikannya, Yaa Allah janganlah kau wafatkan kami sebelum kami dapat menunaikannya walau hanya sekali seumur hidup kami..

Ya Allah Ya Rahman mereka yang sakit saat menjalankan ibadah haji jadikanlah sakit mereka sebagai kaffarat, penghapus dosa mereka, dan mereka yang wafat catatlah sebagai syuhada fi sabillah, terimalah amalan mereka, hapuskanlah segala bentuk kesalahan mereka, sebagaimana mereka menghapus peluh keringat mereka saat mereka berdesakan thawaf mengelilingi rumah-Mu yang Mulia, saat mereka sa’i antara shafa dan marwa dengan himpitan ribuan orang,  saat mereka melempar jamraat dengan melawan gelombang desakan antara hidup dan mati, seperti saat mereka menghapus peluh yang mengucur saat wukuf di padang arafah dibawah sengatan terik mentari yang tidak bersahabat. Ya Allah dengan Ilmu Mu yang maha luas berikanlah mereka ganjaran yang setimpal dengan apa yang mereka persembahkan untuk Mu.

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Saat ini jutaan orang yang haus akan curahan ridho dan maghfirah sang Khaliq sedang memecahkan keheningan malam mereka dengan kumandangan takbir, tahmid dan tahlil seraya merayapi gulita malam menuju mina untuk bertahallul setelah seharian kemarin mereka berwukuf di padang Arafah.

Mereka wukuf di padang Arafah di bawah sengatan mentari, dengan hanya mengenakan kain putih, mereka menyatu dalam totalitas kepasrahan dan rasa berserah diri kepada sang pencipta yang Maha Agung. Tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, penguasa dan rakyat jelata semua sama membaur dalam hamparan luas kekuasaan sang Pencipta dan Pemilik alam semesta.

Demikianlah tampak dalam kekhusyuan wuquf di Arafah sebuah miniatur prinsip persamaan yang dibawa Islam, Islam tidak membedakan ras, suku, gender, warna kulit, strata sosial dan perbedaan-perbedaan duniawi lainnya. Islam memandang semua manusia sama, hanya ketaqwaanlah yang membedakan antara satu dengan yang lainnya, Rasul saw bersabda:

“Tidak ada kelebihan orang arab atas non arab atau non arab atas orang arab dan orang berkulit merah atas orang berkulit hitam atau orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketaqwaan” (HR. Ahmad)

Dan Allah berfirman:

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujuraat: 13).

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Sudah sepatutnya pada momentum idul adha ini kita introspeksi diri agar tidak merasa bangga dengan kekayaan, jabatan, kekuasan dan status sosial yang Allah amanatkan kepada kita, apalagi jika sampai digunakan untuk merendahkan orang lain yang bisa jadi di sisi Allah jauh lebih mulia daripada kita.

Kekayaan dan harta yang kita miliki tidak bernilai sedikitpun di sisi Allah jika diri kita jauh dari ketaqwaan, karena Allah tidak butuh akan hal itu, karena Dialah Dzat Maha kaya yang memiliki seluruh perbendaharaan langit dan bumi, Allah swt berfirman:

“Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami” (QS. Al Munafiquun: 7).

Begitu pula kekuasaan, jabatan dan status sosial yang kita miliki tidak bernilai sedikitpun di sisi Allah jika diri kita jauh dari ketaqwaan, Allah berfirman:

“Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, milik rasul-Nya dan milik orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui” (QS. Al Munafiquun: 8).

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Di hari yang sama Allah swt menitahkan kaum mukminin dan mukminat yang tidak menunaikan ibadah haji untuk merayakan hari kurban ini dengan melaksanakan shalat Iedul Adha dan menyembelih hewan kurban, Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”. (QS. Al Kautsar: 1-2)

Ummu ‘Athiyyah pernah berkata dalam sebuah hadits:

“Rasulullah saw pernah memerintahkan kami untuk menyuruh keluar pada idul fithri dan Idul Adha pemudi-pemudi yang suci maupun yang haidh dan anak-anak wanita. Yang haidh tidak perlu mengikuti shalat cukup hadir dalam kebaikan dan seruan kaum muslimin” (HR. Muslim)

Menyembelih hewan kurban termasuk amal yang terbaik yang dilakukan di hari raya iedul adha, Rasul saw bersabda:

“Tidak ada cara mendekatkan diri kepada Allah pada hari raya Idul Adha yang lebih Allah cinta daripada meneteskan dari hewan kurban, Sesungguh hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu dan dagingnya. Dan darah (hewan kurban itu) sampai kepada Allah sebelum jatuh ke bumi, maka ikhlaskanlah kurban yang kamu berikan itu” (Hadits dengan sanad yang sahih namun tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim)

Menyembelih hewan kurban adalah manifestasi sikap meneladani Abul Anbiya, Nabi Ibrahim AS. Mega pengorbanan yang pernah dipersembahkan beliau kepada sang Ma’bud, diabadikan oleh Allah dalam kitab suci-Nya

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.  (QS. Ash Shaffat: 102-107)

Betapa nabi Ibrahim AS melalui apa yang telah beliau lakukan, telah mengajarkan kepada kita hakikat “Istislam”  kepasrahan dan sikap berserah diri yang totalitas terhadap syariat yang Allah swt titahkan, mengajarkan kepada kita hakikat “al Khudhu’” ketundukan dan “Al Inqiyaad” kepatuhan yang kaaffah, Beliau juga mengajarkan kepada arti sebuah kesabaran. Bagaimana tidak dikatakan berserah diri, tunduk, patuh dan bersabar seorang tua yang telah termakan usia, yang telah puluhan tahun menantikan kedatangan sang buah hati, namun tatkala beliau telah dikaruniai seorang putra tercinta, putra yang didamba2kan, seorang putra yang merupakan lentera rumah tangga yang hampir redup digilas roda usia yang kian rapuh, tiba-tiba datang titah Rabbul Izzati untuk menyembelih sang belahan jiwa ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, tanpa sedikitpun keraguan sang ayah dan sang anak yang jiwanya telah dipenuhi kecintaan terhadap sang ILAAH melaksanakan titah tersebut walau dalam perhitungan logika manusia, ini adalah perintah yang sulit untuk di rasionalkan.

Dan betapa Nabi Ismail AS melalui apa yang telah beliau lakukan, mengajarkan kepada kita hakikat “Birrul Walidain”, berbakti kepada orang tua dalam ketaatan kepada Allah swt.

Itu semua tidak akan dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang terhujam dalam relung hati mereka yang paling dalam, nilai-nilai tauhid yang bersih dari kemusyrikan, orang-orang hati yang benar-benar telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya AL ILAH AL MA,BUUD menjadikan Allah sebagai Ghoyah, tujuan dari hidup dan matinya, dan orang-orang hati sanubarinya telah dipenuhi kecintaan kepada Al Ilahul Mahbuub dan menjadikan pengorbanan sebagai penyulut api kecintaan kepada-Nya agar tetap berkobar.

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Marilah kita jadikan perayaan Iedul Adha 1429 H ini sebagai titik tolak perbaikan total dalam diri kita, dalam aqidah kita, dalam cara berfikir dan orientasi kita. Perubahan total dari aqidah yang masih bercampur kemusyrikan menjadi aqidah tauhid yang murni, cara berfikir yang sedianya sekuler, apatis tidak peduli dengan agama, menjadi orang yang senantiasa terobsesi untuk mengantar diri agar dapat hidup dibawah naungan ajaran Islam yang kaaffah, perubahan orientasi yang sedianya berfokus pada kebahagiaan dunia yang semu bak fatamorgana, hanya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, mengejar jabatan dan kenikmatan dunia lainnya, menjadi orang yang senantiasa berorientasi pada bagaimana merealisasikan tugas mulianya sebagai khlaiftullah fil ardhi dan menjadi orang yang memperoleh kemenangan besar di sisi Allah kelak.

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Menyembelih hewan di hari ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan, Bahkan Rasul saw mengancam siapapun yang mempunyai kesanggupan untuk berkurban namun enggan untuk melakukannya dengan ancaman yang sangat tegas, Rasul saw bersabda:

“Barangsiapa yang mempunyai kesanggupan namun tidak mau berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati mushalla (tempat ibadah) kami”. (HR. Ahmad)

Jangan disangka Allah tidak mengetahui tentang kesanggupan kita, maka dari itu siapapun juga apapun kondisinya jika memang sanggup untuk berkurban dan tersentuh serta khawatir akan ancaman Rasulullah, ketahuilah kita masih punya banyak kesempatan untuk berkurban, waktu berkurban masih terbentang di hadapan kita sejak hari ini sampai dengan sebelum terbenamnya mentari pada 13 Dzul Hijjah nanti.

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Untuk kesempurnaan penyembelihan hewan kurban hendaklah kaum muslimin memperhatikan beberapa ketentuan yang diajarkan Rasul saw:

1. Disunnahkan yang berkurban menyembelih hewan kurban dengan tangannya sendiri.

Dari Anas bin Malik berkata: “Sungguh aku melihat Rasulullah menyembelih hewan kurbannya dengan tangan beliau seraya meletakkan kakinya di atas punggungnya” (Sunan Ibnu Majah)

Jika tidak bisa maka hendaklah hadir dan menyaksikan proses penyembelihan, Rasulullah bersabda kepada putrinya tercinta:

“Wahai Fatimah bangkitlah dan saksikanlah hewan kurbanmu, sesungguhnya dosamu yang pernah kamu lakukan diampuni bersamaan dengan tetesan darah pertama dari darahnya yang mengalir, dan bacalah: ‘Inna shalatiy wa nusukiy wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘Aalamiin laa syariika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin’ “ (HR. Al Baihaqi)

2.  Hendaknya yang menyembelih mengasah alat yang digunakan untuk menyembelih hingga tajam.

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan (berlaku baik) atas segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, berlaku baiklah dalam membunuh dan jika kalian menyembelih, maka berlaku baiklah dalam menyembelih. Dan hendaklah salah seorang dari kalian mempertajam pisaunya dan tenangkanlah sembelihannya (dengan mempercepat kematiannya)”. (HR. Ahmad, Muslim dan Ashabus Sunan yang empat)

3. Hendaknya tidak mengasah pisau atau alat serupa di depan hewan sembelihan dan tidak menyembelihnya di hadapan hewan yang lain serta tidak menariknya dengan keras/ kasar.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah r melewati seseorang yang meletakkan kakinya di punggung kambing sambil mengasah pisaunya, maka beliau r bersabda, “Mengapa tidak kamu lakukan (mengasah pisau) sebelum ini? Apakah kamu ingin membunuhnya dua kali, mengapa tidak kamu asah pisaumu sebelum kamu membaringkannya”. Hadits shahih diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al Hakim. Lihat Ash-Shahihah (no. 24)

4. Hendaklah penyembelihan dilakukan dengan menghadap kiblat

Dilakukan dengan membaringkan kambing atas sisinya yang kiri kemudian meletakkan telapak kaki yang kanan di atas sisi kambing yang kanan, sehingga memudahkan bagi penyembelih untuk memegang pisau dengan tangan kanan dan menahan kepala kambing dengan tangan kiri. Lihat Fathul Bari (10/15).

Adapun unta maka sunnah dalam menyembelihnya adalah dalam keadaan berdiri yaitu terikat (kaki kiri depannya) dan berdiri di atas ketiga kakinya yang lain. Berdasarkan dalil firman Allah I, “…maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”. (Qs. Al Hajj: 36).

5. Untuk keberkahan hewan kurban yang disembelih hendaklah penyembelih membaca do’a yang diajarkan Rasulullah saw:

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, ya Allah sesungguhnya ini dari-Mu dan untuk-Mu”. (HR. Abu Daud), “Ya Allah terimalah dariku”. (HR. Muslim)

Allahu akbar …. Allahu akbar …. Allahu akbar wlillahil hamdu.

Jama’ah iedul Adha yang dirahmati Allah…. marilah sejenak kita tundukkan kepala kita, kita rendahkan hati kita tuk berdo’a kepa sang Khaliq Yang Maha Dekat dan Maha mendengar do’a dan permintaan hamba-Nya;

“Ya Allah Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya. Ya Allah engkau yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau musnahkan kekuasaan dari siapa yang engkau kehendaki, Engkau muliakan siapa saja yang Engkau kehendaki dan hinakan siapa saja yang Engkau kehendaki, di tangan-Mu semua kebaikan, sesungguh nya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

“Ya Rabbana, kami telah mendzalimi diri kami, jika Engkau tidak memberikan ampunan dan rahmat kepada kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al A’raf: 23)

“Ya Allah, karuniai kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiyat kepada-Mu, karuniai kami ketaatan kepada-Mu yang dapat mengantarkan kami ke surga-Mu, tancapkan dalam relung hati kami keyakinan yang dengannya ringan kami rasa semua musibah dunia yang menimpa kami, Ya Allah hiasi kami dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan, janganlah Engkau sirnakan itu semua selagi kami hayat dikandung badan, yaa Allah jadikanlah kekuatan kami untuk menghadapi orang yang menzhalimi kami, dan tolonglah kami untuk menghadapi musuh-musuh kami. Ya Allah janganlah engkau kuasakan terhadap diri kami orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak berbelas kasih kepada kami” (HR. At- Turmudzi).

“Ya Allah Rabb kami, janganlah Kau jadikan hati kami condong kepada kesesatan, sesudah Engkau beri kami petunjuk dan karuniakan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia”. (QS. Ali ‘Imran : 8)

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tidak sengaja. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. maafkanlah kami; ampunilah kami; dan sayangi kami. Yaa Allah Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Al Baqarah : 286)

“Ya Allah, Engkau yang membolak balik hati, tetapkanlah hati kami di atas dien­-Mu. Ya Allah, Engkau yang mengubah-­ubah hati, ubahkanlah hati kami atas ketaatan kepada-Mu”. (HR. Muslim)

“Ya Allah terimalah puasa arafah yang kami lakukan sebagai wujud ketaatan kepada utusan Mu, jadikanlah ia penghapus dosa-dosa kami sebagaimana yang engkau janjikan, terimalah hewan-hewan kurban yang kami persembahkan ikhlas karena Mu, jadikanlah pada setiap helai bulunya kebaikan dan setiap tetesan darahnya penghapus dosa-dosa kami dan jadikanlah ia sebagai pemberat timbangan kebaikan kami di hari pembalasan kelak”.

Mataram,  7   Desember 2008 M

9 Dzul Hijjah 1429 H

H. Marzuki MN, Lc.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: