Beranda > KAJIAN STUDI ISLAM, Ushul Fiqih > Sejarah Munculnya Ilmu Ushul Fiqih

Sejarah Munculnya Ilmu Ushul Fiqih

Para sahabat di zaman Rasulullah saw, apabila ingin mengistinbath (mengambil kesimpulan) hukum syar’i untuk diterapkan pada permasalahan yang baru muncul mereka melakukannya dengan merujuk ke sebuah kaidah ushuliyah yang telah melekat dan terpatri dalam diri mereka, mereka mengetahuinya dari nash-nash dan nilai-nilai syar’i juga dari sikap dan perilaku Rasulullah saw yang mereka alami dan saksikan sendiri.

Terkadang mereka mengungkapkan kaidah yang mereka gunakan itu secara eksplisit pada masalah furu (cabang) tertentu. Seperti yang dilakukan Ibnu Umar r.a saat dia mendengar ada orang yang melarang tamattu dalam haji karena mengikuti perkataan Umar bin Khattab r.a, dia berkata pada orang tersebut, “hampir saja turun hujan batu atas kalian, saya mengatakan, “Rasulullah saw bersabda” dan kalian berkata, “Kata Abu Bakar dan Umar …”.

Dalam hal ini Ibnu Umar ingin mengatakan bahwa tamattu hukumnya boleh -ini adalah hukum far’iy (cabang)- dia membantah orang yang mengatakan tamattu hukumnya tidak boleh dengan suatu kaedah yang dia ungkapkan secara eksplisit bahwa “Dalil dari sunnah nabawi harus didulukan dari perkataan sahabat, walaupun yang mengatakannya adalah salah satu dari syaikhain (dua syaikh besar) Abu Bakar dan Umar r.a”

Begitu pula perkataan Umar bin Khattab kepada Abu Musa Al Asy’ari r.a. saat dia menugaskannya sebagi Qhadi (hakim) “I’rif al asybaah wa al amtsaal wa qis al umur bira’yika (Kenali hal-hal yang serupa dan sama lalu qiyaskan dengan analisa kamu)”.

Ini merupakan ungkapan yang eksplisit mengenai kaidah bolehnya melakukan qiyas yang merupkan masalah ushul.

Di zaman tabi’in dan sesudahnya semakin banyak kebutuhan untuk melakukan istinbath hukum karena masalah-masalah yang timbul akibat banyaknya negeri yang takluk dalam kekuasaan Islam saat itu.

Banyak tabi’in yang mengkhususkan diri dalam fatwa, maka merekapun dalam melakukan istinbath perlu melangkah di atas suatu kaidah yang metode yang definitif serta landasan yang jelas.

Hanya saja ilmu ushul fiqih belum teridentifikasi dari ilmu-ilmu lainnya kecuali setelah Imam Syaf’i (pada tahun 204 H) permasalahan-permasalahan ushul dalam kitabnya yang dia namakan “Ar Risalah”. Beliau konsentrasikan kitab itu pada pembahasan; metode istinbath hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah, pembahasan Ijma dan Qiyas, pembahasan tentang Nasikh dan Mansukh, Khaas dan Aam juga pembahasan mengenai mana hadits yang dapat dijadikan hujjah dan yang tidak.

Imam Syafi’i kumpulkan semua ilmu yang membahas permasalahan yang sebenarnya telah menjadi momok di kalangan ulama sebelumnya itu dalam kitab Ar Risalahnya. Tentu beliau lakukan itu setelah mensortir mana yang tepat dan mana yang tidak. Beliau juga berikan komentar beliau terhadap pendapat dari ulama-ulama yang membahasnya sebelumnya di dalam kitabnya.

Lalu dia susun kaidahkan ilmu-ilmu itu, beliau buat kerangka yang ulama-ulama sesudahnya mengikuti kerangka yang telah beliau letakkan. Kemudian setelah itu bermunculan tulisan-tulisan mengenai disiplin ilmu ini, lalu berkembanglah ilmu ushul. Hingga akhirnya berijtihad dan beristinbath dari suatu dalil menjadi mudah, karena hukum telah diklasifikasikan begitu pula dalil-dalilnya. Metode beristinbathpun menjadi jelas dan ada kaidahnya. Mudah untuk mengindetifikasi ijtihad yang menympang dan yang benar, karena ijtihad yang menyimpang merujuk kepada dalil yang telah dianlisa oleh ulama mengenai ketidak benaran dalil yang dipakainya itu sekaligus telah diterang mana letak kesalahannya.

Semoga Allah merahmati Imam Syafi’i dengan rahmat yang luas dan berkenan menempatkannya di Surga yang luas.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: