Beranda > Aqidah & Manhaj, KAJIAN STUDI ISLAM > MANHAJ AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

MANHAJ AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

28 Januari 2008

I. Makna Manhaj


Secara bahasa kalimat “manhaj” berasal dari kata –nahaja- yang berati jalan yang terang . Bisa juga berarti jalan yang ditempuh seseorang, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (QS Al-Maidah:48)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Demi Allah, Rasulullah tidak meninggal dunia, hingga meninggalkan jalan yang jelas” (HR. Al-Darami no. 83)
Adapun manhaj yang dimaksud di sini adalah jalan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang kemudian dilalui oleh para sahabat, Tabi’in dan pengikutnya dalam kebenaran hingga hari kiamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

” Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf : 108)

II. Makna Ahlussunnah wal jamaah.

Kata “Ahlussunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu ahlu yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan. Dan kata Sunnah yang berarti apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiyamat.
Namun dalam perspektif syariah (fiqh) kata sunnah sering diartikan dengan Perbuatan yang kalau dilakukan mendapat pahala, dan kalau ditinggalkan tidak mendapat dosa. Namun yang dimaksud dengan As-Sunnah” di sini adalah adalah,” Thariqah (jalan hidup) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang juga dilalui oleh para shahabat yang telah selamat dari syubhat dan syahwat”. Fudhail bin Iyadh berkata,”Ahlus Sunnah adalah orang yang mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya dari (makanan) yang halal” .
Karena tidak memakan yang haram termasuk salah satu sunnah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan para shahabat.
Dengan demikian maka Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan sunnah shahabatnya. Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan atsar para shahabatnya adalah Ahlus Sunnah” .
Adapun kata jamaah berarti bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari sahabat, tabiin dan ulama–ulama yang mengamalkan sunnah sampai hari Kiyamat.
Sedangkan menurut istilah, dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, “Ahlussunnah wal jamaah adalah orang yang mengamalkan sunah Rasulullah dan berkumpul di dalamnya dengan beribadah kepada Allah baik dalam masalah aqidah (keyakinan), perkataan, perbuatan, dan panutannya adalah Shalafusshalih dari sahabat, tabiin dan pengikut tabiin”.

III. Kriteria Ahlussunnah wal jamaah

DR. Nashr Al-Aql dalam kitabnya “Mafhum Ahlussunnah ’inda Ahlissunnah”, menyebutkan beberapa kreteria Ahlussunnah wal jamaah di antaranya;
1. Mereka adalah sahabat Rasulullah yang mengerti, melihat dan mengamalkan sunnah Rasullullah pertama kalinya, oleh sebab itulah mereka berhak mendapat gelar demikian. Begitu juga para tabiin yang mengambil sunnah dari sahabat dan mengamalkannya tanpa menambah dan menguranginya. Dan juga para pengikut tabiin dan orang-orang setelahnya sampai hari kiyamat yang berusaha mencontohi dan mengikuti mereka dalam masalah akidah dan ibadah.
2. Ahlussunah adalah para salafusshalih yang mengamalkan Kitab dan Sunah sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam , Yang mengikuti teladan para sahabat, tabiin dan ulama-ulama yang tidak pernah merubah dan membuat hal-hal yang baru dalam agama Allah.
3. Ahlussunnah wal jamaah adalah firqatunnajiyah (golongan yang selamat) di antara golongan-golongan yang ada. Yang selalu mendapatkan pertolongan dari Allah sampai hari kiyamat.
4. Mereka adalah orang–orang yang ghuraba’ (asing) karena tetap berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dalam keadaan yang orang lain melupakan dan meninggalkannya. Mereka juga memperjuangkan tegaknya As-Sunnah di saat tersebarnya bid’ah dan kesesatan dan kerusakan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Islam muncul pertama kali dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana semula. Maka beruntunglah orang–orang yang asing” . Dalam riwayat lain disebutkan, “Beruntunglah al-Ghuraba’ yaitu orang yang shalih di tengah manusia yang jahat, orang yang mengingkarinya lebih banyak dari yang mengikutinya” .
5. Dinamakan Ahlussunnah karena mereka mengamalkan sunah sebagaimana mestinya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam “Amalkanlah sunnahku” .
Penamaan Ahlussunnah dilakukan setelah terjadinya fitnah pada awal munculnya firqah-firqah. Ibnu Sirin berkata, “Mereka (pada mulanya) tidak pernah menanyakan tentang sanad. Ketika terjadi fitnah (para ulama) mengatakan: Tunjukkan (nama-nama) perawimu kepada kami. Mereka melihat bila ia termasuk Ahlus Sunnah hadits mereka diambil, dan bila termasuk ahlul bi’dah maka hadits mereka tidak di ambil”.
Al-Imam Malik pernah ditanya :”Siapakah Ahlus Sunnah itu? Beliau menjawab,”Ahlussunnah adalah mereka yang tidak mempunyai laqab (julukan) yang sudah terkenal seperti Jahmi, Qadari, atau Rafidli”.
Istilah Ahlus Sunnah sudah terkenal dikalangan Ulama Mutaqaddimin (terdahulu) sebagai kebalikan dari istilah Ahlul Ahwa’ wal Bida’ dari kelompok Rafidlah, Jahmiyah, Khawarij, Murji’ah dan lain-lain. Ahlus Sunnah adalah orang yang tetap berpegang pada sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan para shahabatnya. Jadi gelar Ahlussunnah bukanlah hal-hal yang muhdats (dibuat-buat baru), tetapi mempunyai sandaran syar’I yaitu:
1. Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam karena beliau memerintahkan untuk mengamalkan sunnahnya. Dan memerintahkan untuk berjamaah dan melarang untuk berpecah belah dan keluar darinya. Jadi Ahlussunnah adalah gelar yang diberikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
2. Bersumber dari atsar para sahabat dan generasi terbaik umat ini dari sifat mereka yang telah disepakati oleh para ulama umat yang mereka tulis dalam kitab-kitabnya.
3. Sebuah nama yang dipakai untuk membedakan mereka dengan pelaku bid’ah, bukan seperti yang dituduhkan bahwa istilah ahlussunah tidak muncul kecuali setelah terjadi perpecahan di antara umat Islam.

IV. Apakah mereka terbatas hanya pada satu masa dan tempat?.

Ahlussunnah tidak hanya terbatas pada satu priode dan tempat. Tetapi terkadang mereka lebih banyak di suatu tempat atau masa dan berkurang di masa atau tempat yang lain.
Beberapa karakteristik dari Ahlussunah yang disebutkan sendiri oleh para salafusshalih adalah ;

1. Mereka yang berpegang pada tali Allah yang kuat.
Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata, ” As-Sunnah adalah tali Allah yang kuat, barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah memutus talinya Allah” , Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu menambahkan, “Sesungguhnya Ashabussunan (pengamal sunnah) itu lebih mengetahui tentang Kitabullah” .

2. Mereka adalah teladan baik yang mengajak kepada jalan yang benar.
Umar bin Qais al-Malaiy (wafat tahun 143 H) berkata, “Apabila anda melihat seorang pemuda yang tumbuh dewasa bersama Ahlussunnah maka peliharalah, dan kalau besar bersama pelaku bid’ah maka jagalah dirimu darinya. Karena sifat seorang akan tumbuh dewasa sesuai dengan masa kanaknya” . Dalam kitab kitab yang sama ditambahkan, “Sesungguhnya pemuda apabila bergaul dengan orang alim maka akan selamat, tetapi apabila bergaul dengan yang lainnya maka akan terpengaruh Ibnu Syaudzab (wafat tahun 120 H) berkata, “Termasuk nikmat Allah kepada pemuda apabila dewasa diberikan taufik untuk bergaul dengan pelaku sunnah” .
Demikian juga yang dikatakan oleh as-Sahityani (wafat tahun 131 H), “Termasuk kebahagiaan bagi seorang apabila diperkenankan oleh Allah untuk bergaul dengan Ahlussunnah” . Dan dari Ibnu Abbas diriwayatkan ketika menafsirkan firman Allah surat Ali Imran ayat 106 beliau mengatakan,” Adapun orang yang putih mukanya adalah Ahlussunnah wal Jamaah, dan orang yang hitam mukanya adalah ahli bid’ah dan kesesatan ” .

3. Mereka tidak mau diberi gelar dan atribut kecuali dengan nama Ahlussunah.
Barang siapa yang bergabung pada kelompok yang bukan Ahlussunah maka akan mendapatkan kerugian dan kebinasaan karena Ahlussunah-lah golongan yang selamat karena mendapatkan pertolongan dari Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah, dan itulah jalannya orang–orang yang mukmin. Ibnu Abbas berkata,”Barang siapa yang mengikuti kelompok-kelompok pelaku bid’ah ini maka dia telah melepaskan ikatan Islam dari dirinya.” . Ketika Imam Malik ditanya siapakah Ahlussunnah itu ?, beliau menjawab, “Mereka orang yang tidak mempunyai nama lain atau identitas yang dikenal dengannya seperti Jahamiy (pengikut kelompok Jahamiyah), Rafidhiy (pengukut Rafidhah) atau Qadhariy (pengikut Qadariyah)” .
Begitu juga jawaban Ibnu Al-Qayyim ketika ditanya tentang Ahlussunnah beliau berkata, “Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlussunnah” . Malik bin Maglul lebih tegas lagi mengatakan, “Apabila ada seorang menamakan dirinya dengan bukan Islam dan As-Sunnah maka masukkanlah dia pada agama apapun yang kamu kehendaki . Maka Maimun bin Mahran menasihatkan untuk jangan sekali-kali menamakan dirinya dengan nama selain Islam” .

Referensi:
1. Muzilul Ilbas fi al-Ihkam ‘ala an-Naas, editor Syaikh Sa’d bin Shabir Abduh.
2. Ta’rif al-Khalaf bi Manhaj al-Salaf, DR. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan
3. Al-Minhaj baina al-Ishalah wa al-Tagrib, DR. Muhammad bin Shalih Ali

%d blogger menyukai ini: